Lestarikan Tradisi dan Ritual Leluhur, Gawai Dayak Nyelapat Taun Dusun Belikai Berlangsung Khidmat

Facebook
Twitter
LinkedIn

Masyarakat Dusun Belikai, Desa Belikai, Kecamatan Seberuang sukses menggelar pesta panen Gawai Dayak Nyelapat Taun 2026. Acara yang sarat akan nilai budaya dan tradisi leluhur ini berlangsung meriah dengan dihadiri oleh jajaran pimpinan kecamatan, tokoh adat, serta ratusan warga dan tamu undangan.

Hadir langsung dalam kegiatan tersebut Camat Seberuang Fransiskus, S.Sos., Kepala Desa Belikai Ricardus Barce Djawa, Ketua DAD Kecamatan Seberuang, Ketua Adat, Patih Suku Adat Suhaid, Ketua Panitia, serta segenap elemen masyarakat setempat.

Malam puncak gawai ini terasa semakin syahdu dengan adanya selingan penampilan nyanyian dari peraih juara pertama lomba Gawai, serta petikan alat musik tradisional Sape yang dimainkan dengan memukau oleh Bang Didi.

Dalam laporan sekaligus sambutannya, Ketua Panitia Gawai, Jepison, menyampaikan rasa syukur yang mendalam atas kelancaran seluruh rangkaian acara. Ia menjelaskan bahwa esensi utama gawai ini adalah sebagai bentuk terima kasih atas berkat panen yang melimpah.

“Puji syukur kita panjatkan atas berkat jalannya acara pada malam hari ini. Pesta panen Nyelapat Taun ini bukan sekadar pesta, melainkan wajib kita lakukan sebagai wujud syukur atas kelimpahan hasil panen yang diberikan kepada kita. Selain itu, momentum ini menjadi ajang silaturahmi yang kuat antara sub-suku Dayak demi melestarikan budaya agar anak cucu kita tetap mengenal jati dirinya,” papar Jepison.

Dalam kesempatan tersebut, Jepison secara transparan melaporkan keuangan panitia, dengan total pemasukan sebesar Rp14.000.000,00 dan total pengeluaran sebesar Rp10.000.000,00.

Sementara itu, Kepala Desa Belikai, Ricardus Barce Djawa, menyampaikan ucapan selamat gawai kepada warganya dan mengingatkan panitia untuk memperhatikan lokasi acara yang berada di dekat akses publik.

“Atas nama pemerintah desa, saya mengucapkan selamat hari gawai untuk masyarakat Desa Belikai, khususnya Dusun Belikai. Ke depan, acara serupa juga akan diadakan di Dusun Landu. Saya berterima kasih kepada panitia yang setiap tahun konsisten melaksanakan gawai dengan penuh khidmat. Namun, saya berpesan agar keamanan dan ketertiban terus dijaga, jangan sampai jalan umum terganggu karena lokasi acara kita berdekatan dengan jalan raya. Tetap jaga dan jangan mengubah makna asli dari gawai Dayak,” imbau Kades Ricardus Barce.

Apresiasi tinggi juga datang dari Camat Seberuang, Fransiskus, S.Sos. Beliau berterima kasih kepada panitia dan warga yang telah bekerja keras selama dua minggu demi menyiapkan acara ini, serta memuji inisiatif panitia dalam mengadakan lomba-lomba tradisional.

“Terima kasih kepada ketua panitia dan Bapak Kades yang telah mengundang kami. Melalui lomba-lomba yang diadakan, kita telah bergerak nyata untuk menggali dan melestarikan kembali budaya nenek moyang kita yang sudah hampir punah. Dengan adanya kegiatan ini, generasi baru yang tadinya tidak tahu menjadi paham akan budaya asli mereka. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Petara/Jubata atas hasil panen, mari kita bersama-sama menjaga ketertiban agar seluruh acara hiburan rakyat berjalan dengan aman,” ungkap Camat Fransiskus.

Penegasan mengenai pentingnya esensi adat juga diutarakan oleh Ketua DAD Kecamatan Seberuang. Ia menekankan bahwa inti dari gawai Dayak adalah pemenuhan ritual adat, bukan sekadar hiburan semata.

“Namanya Nyelapat Taun untuk gawai Dayak, maka orang Dayak wajib melakukan ritual adat pada saat gawai dan jangan hanya berfokus pada hiburan (ogt) saja. Kebanggaan bagi Dusun Belikai karena di sini sudah melaksanakan ritual adat dengan baik. Pesan saya kepada anak-anak muda, hiduplah dengan memegang teguh adat istiadat, dan semoga tahun depan kegiatan ini bisa lebih ditingkatkan lagi,” tegas Ketua DAD.

Patih Suku Adat Suhaid memberikan pemahaman mendalam mengenai sejarah dan makna dari ritual adat yang dijalankan, agar masyarakat, terutama generasi muda, memahami esensinya.

“Mungkin ada yang belum paham, ritual adat ini dijalankan menurut kepercayaan leluhur Suku Suhaid. Sebelum kita mengenal agama, adat istiadat inilah yang menjadi pegangan hidup. Sebelum melakukan ritual adat, rangkaian acara ini belum boleh dinyatakan selesai. Dalam bahasa adat Suku Suhaid, Nyelapat Taun adalah bahasa adat untuk transisi dari tahun yang lama menuju tahun yang baru sebagai ucapan terima kasih kepada Alah Tala (Tuhan Yang Maha Esa),” jelas Patih Adat.

Menutup rangkaian sambutan, Ketua Adat Dusun setempat memberikan imbauan keras dan tegas kepada seluruh masyarakat maupun pengunjung yang hadir demi mengantisipasi terjadinya kericuhan.

“Pekan gawai ini adalah ajang silaturahmi, bukan tempat kericuhan, terkhusus bagi kaum muda. Siapa saja yang mengganggu jalannya acara akan langsung dikenakan sanksi adat yang tegas. Menikmati minuman boleh, tetapi jika bertamu dan mabuk hingga mengganggu kenyamanan warga, sanksi adat akan diberlakukan. Termasuk siapapun yang kedapatan melakukan aktivitas perjudian di lokasi ini, akan langsung kita jatuhi sanksi adat,” pungkas Ketua Adat dengan tegas

Berita Lainnya

info.kapuashulukab.go.id | develop by Diskominfotik Kapuas Hulu | © 2019  | Privacy Policy