
Putussibau — Potensi lahan gambut tropis purba di Kabupaten Kapuas Hulu menjadi salah satu topik dalam pertemuan Brigjen TNI Firman, Ketua Penyuluh Karhutla dari Mabes TNI, bersama Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Kapuas Hulu, Drs. H. Iwan Setiawan, M.Si., di Putussibau, Rabu (2/9/2026).
Pertemuan tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus bertukar informasi mengenai potensi lingkungan dan pariwisata di Kabupaten Kapuas Hulu. Salah satu yang menjadi perhatian adalah keberadaan kawasan gambut tropis purba yang memiliki nilai ekologis dan ilmiah serta berpotensi dikembangkan sebagai wisata edukasi dan ekowisata.
Dalam pertemuan itu disampaikan bahwa lahan gambut tropis yang berada di pedalaman utara Kota Putussibau diperkirakan telah terbentuk sejak sekitar 47.800 tahun lalu berdasarkan penanggalan karbon. Kawasan tersebut juga disebut memiliki kedalaman gambut hingga sekitar 18 meter.
Gambut terbentuk dari akumulasi sisa bahan organik, seperti kayu dan daun, yang terawetkan dalam kondisi jenuh air. Tingginya permukaan air menyebabkan proses pembusukan berlangsung tidak sempurna sehingga bahan organik tersebut terus terakumulasi selama ribuan tahun.
Keberadaan gambut purba tersebut memiliki arti penting dari sisi ekologis maupun ilmiah. Selain berperan sebagai penyimpan karbon, lapisan gambut dapat menyimpan rekaman kondisi lingkungan yang memberikan informasi mengenai perubahan iklim dan ekosistem pada masa lampau, khususnya di kawasan ekuator.
Kawasan gambut tersebut sebelumnya juga telah menjadi perhatian tim ilmuwan dari University of Oregon dan dipublikasikan dalam jurnal Environmental Research Letters. Publikasi tersebut turut memperkuat nilai ilmiah kawasan sekaligus pentingnya menjaga keberadaan gambut tropis purba di Kapuas Hulu.

Dalam kesempatan tersebut, Brigjen TNI Firman menyampaikan pentingnya menjaga kelestarian kawasan gambut serta mendorong pemanfaatannya secara bijaksana. Potensi lingkungan yang memiliki nilai sejarah dan ilmiah tersebut perlu dilindungi agar tidak mengalami kerusakan, terutama akibat ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Disporapar Kapuas Hulu, Drs. H. Iwan Setiawan, M.Si., menyambut baik informasi dan gagasan yang disampaikan. Menurutnya, keberadaan lahan gambut tropis purba dapat menjadi potensi baru dalam pengembangan pariwisata berbasis lingkungan dan edukasi di Kabupaten Kapuas Hulu.
Ia menyampaikan bahwa kawasan tersebut berpeluang dikembangkan secara berkelanjutan sebagai destinasi wisata edukasi dan ekowisata yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar, dengan tetap mempertahankan fungsi ekologisnya.
Pengembangan destinasi wisata, lanjutnya, perlu memperhatikan daya dukung lingkungan. Karena itu, aspek konservasi dan perlindungan kawasan menjadi bagian penting dalam setiap rencana pengembangan potensi wisata gambut purba tersebut.
Upaya pencegahan karhutla juga menjadi perhatian penting dalam menjaga keberlanjutan kawasan. Gambut yang terlindungi dari kebakaran tidak hanya berfungsi sebagai penyimpan karbon dan habitat alami, tetapi juga dapat dipertahankan sebagai kekayaan alam yang memiliki nilai edukasi dan daya tarik wisata.
Kolaborasi antara pemerintah daerah, pihak terkait, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga sekaligus mengembangkan potensi lahan gambut tropis purba tersebut.
Dengan pengelolaan yang tepat dan berkelanjutan, kawasan gambut purba Kapuas Hulu berpeluang menjadi destinasi wisata berbasis konservasi yang memperkenalkan kekayaan alam, sejarah lingkungan, serta pentingnya perlindungan ekosistem gambut kepada masyarakat dan wisatawan.

