Guru di Pedalaman Kapuas Hulu Mengemukakan Pendapat Mereka di Hari Sumpah Pemuda

By. KIM Juragan.

Efi, Guru SD Negeri Pulau Sayat. Doc.
Indri, Guru TKN Pembina Empanang, Desa Nanga Kantuk.

Putussibau, Info Kapuas Hulu – Upacara memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-91, telah dilaksanakan di Bumi Uncak Kapuas. Meskipun di pagi hari ini, hujan mengguyur wilayah Kota Putussibau dan sekitarnya.

Hari Sumpah Pemuda jatuh setiap 28 Oktober. Berbagai pendapat dan harapan disampaikan para guru di pedalaman Kapuas Hulu.

Bina Indri Hapsari, guru di TK Negeri Pembina Empanang, Desa Nanga Kantuk berpendapat, generasi sekarang ini, generasi yang luar biasa. Hanya saja budaya Indonesia mulai terpinggirkan.

“Itu efek samping dari berkembangnya teknologi dan kurangnya pengawasan di lingkungan masyarakat,” kata alumni Rohis ini kepada KIM Juragan melalui Whatsapp.

“Bukan cuma lingkungan rumah atau sekolah saja, tapi lingkungan masyarakat juga harus turut mengawasi dan melestarikan budaya-budaya Indonesia, supaya semangat nasionalismenya tetep terjaga,” tuturnya.

Karena, lanjutnya, budaya menunjukkan wajah bangsa, kalau generasi sekarang tidak mengenal budaya Indonesia, maka Indonesia kedepanya akan mudah dihancurkan oleh bangsa lain yang memang mengincar Indonesia dari dulu, karena posisi Indonesia itu sangat strategis.

Guru yang masih single ini juga menyampaikan, generasi sekarang juga lebih mempercayai apa yang ada di internet dari pada kenyataan yang ada disekitarnya, terutama tentang berita hoax yang semakin hari semakin meresahkan. Karena anak-anak dengan mudah mengakses dan menyebarkan berita yang belum tentu benar.

“Kurangnya rasa persaudaraan, dan etika serta pengaturan emosional yang kurang maka generasi sekarang sangat mudah terpancing, terombangambing serta berseteru dengan sesama dibandingkan mencari informasi yang akurat dan bisa dipercaya,” ujarnya.

Efi fitriani, Alumni STKIP Persada Khatulistiwa Sintang, yang sekarang menjadi guru SD Negeri 15 Pulau Sayat berpendapat, Hari Sumpah Pemuda patut kita peringati, terlebih oleh kaum muda.

Karena, lanjutnya, 28 Oktober merupakan moment yang sangat bersejarah. Patutnya kita yang masih produktif melakukan apa yang dilakukan pemuda terdahulu.

“Jika dahulu mereka berperang demi merebut kemerdekaan, nah untuk pemuda saat ini berperang melawan banyak hal, diantaranya melawan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Melawan ketidakadilan penguasa-penguasa dan yang paling penting adalah melawan kebodohan dan kemalasan yang ada pada diri kita sendiri,” ujarnya perempun yang saat ini aktif di organisasi Nasyiatul Aisyiyah, GOW, KAHMI dan Lazismu.

Sehingga, lanjutnya, bisa menjadi pemuda yang berkualitas, intelek, dan religius. Banyak hal yang bisa dilakukan pemuda saat ini, bukan hanya upacara peringat tetapi bagaimana kita bisa berkontribusi dalam mengisi pembangunan.

Selanjutnya, Hadi Hasbullah, guru di SMP Negeri 5 Boyan Tanjung berharap, pemuda-pemudi Indonesia saat ini dan nanti akan berperilaku sesuai dengan isi sumpahnya.

“Pemuda yang rela menumpahkan darahnya hanya untuk menjaga kedaulatan negara, bukan menjadi bibit perusak bangsa,” tutur alumni S1 Pendidikan Jasmani dan Kesehatan FKIP Untan ini. (Ria).