Pneumonia Pada Anak

Oleh: dr. Mas Agung Ginanjar, M.Sc., Sp. A; dr. Kristian Sembiring

Putussibau – Kasus Pneumonia masih banyak ditemukan di daerah Putussibau, baik rawat jalan maupun rawat inap di RSUD dr. Achmad Diponegoro.

Sebagai upaya mengajak masyarakat dalam mengendalikan pneumonia, RSUD dr. Achmad Diponegoro Putussibau bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), memperingati World pneumonia day pada tanggal 12 November lalu. Pengendalian dilakukan dengan melaksanakan kegiatan 3P yaitu, Proteksi, Pencegahan dan Pengobatan. Proteksi meliputi hidup sehat dengan cara pemberian ASI eksklusif 6 bulan, nutrisi cukup dan pemberian Vitamin A.

Pencegahan meliputi kegiatan imunisasi (DPT, HiB, PCV, Influenza dan Campak), cuci tangan dengan sabun, mengkonsumsi air bersih, dan menghindari polusi asap (rokok dan biomassa). Pengobatan meliputi pelayanan kesehatan yang luas, diagnosis pneumonia yang cepat dan tepat serta pemberian antibiotik yang sesuai.

Pneumonia atau infeksi akut parenkim paru sering ditemukan pada anak dan masih menjadi masalah kesehatan utama di negara berkembang seperti Indonesia. Pneumonia menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak dibawah 5 tahun dengan angka kematian di Indonesia diperkirakan mencapai 4-5/1000 penduduk dan 20% kematian bayi di dunia. Pneumonia disebabkan oleh bakteri, virus, dan jamur, dimana penyebab yang paling banyak pada balita adalah Streptoccoccus Pneumonia dan Haemophilus Influenza.

Faktor risiko pada anak dengan pneumonia adalah ASI tidak eksklusif, imunisasi tidak lengkap, gizi kurang atau gizi buruk, bayi lahir prematur, polusi lingkungan, dan lingkungan yang tidak bersih. Gejala yang didapatkan pada anak awalnya didahului oleh infeksi saluran napas seperti batuk, pilek dan demam. Napas cepat, sesak dan napas cuping hidung akan ditemukan 3-5 hari kemudian. Manifestasi klinis yang berat pada pneumonia dapat terjadi retraksi (tarikan dinding dada ke dalam), sianosis dan distress napas.

Tanda bahaya pada anak usia dibawah 2 bulan adalah malas minum, stridor, demam, kejang, dan penurunan kesadaran. Sedangkan untuk anak berusia 2 bulan sampai 5 tahun adalah kejang, kesadaran menurun, stridor, dan gizi buruk. Pemeriksaan foto thoraks diperlukan untuk menentukan luas, lokasi, dan komplikasi pneumonia. Pada pemeriksaan laboratorium dapat ditemukan peningkatan sel darah putih. Terapi yang diperlukan pada berupa pemberian antibiotik apabila kecurigaan pneumonia dengan bakteri.

Untuk itu, deteksi dini pneumonia adalah sangat penting sehingga dapat dilakukan pengobatan segera dan tepat. Pengendalian pneumonia diperlukan peran lintas program dan sektoral melalui kebijakan dan strategi pengendalian pneumonia.
Sumber:

  1. UKK Respirologi IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia).
  2. Naning Roni. Pneumonia pada anak. Divisi Respirologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKKMK UGM.

Editor: Ria.