Bermodalkan Gerobak Bekas yang di Daur Ulang, Pemuda Ini Raih Omset 2 Juta Perhari

 By.KIM Juragan.

Putussibau, Info Kapuas Hulu – Bermodalkan gerobak bekas yang di daur ulang dan dimodifikasi, serta pinjaman dari kawan-kawan, anak muda ini sudah mampu raih Rp2 jutaan dalam sehari.

Hendro Susilo (25 tahun) pemilik usaha kuliner khas Yogyakarta, yang berdiri sejak lima bulan yang lalu. Di pusat kuliner, jalan Kom. Yos. Sudarso, sebelah kanannya RSUD dr. Achmad Diponegoro Putussibau. Atau antara RSUD dan Masjid Agung Darunnajah Putussibau.

Di situlah ia membuka angkringannya yang bernama “Monggo Mampir”, mulai sore atau ba’da Ashar, hingga dini hari. Dari pukul 15.00 WIB – 02.00 WIB.

Meski sebelumnya, dengan konsep yang sama, tiga tahun yang lalu sempat tutup. Kini berkat keuletan, keberanian, dan dukungan dari teman-teman, ia mampu bangkit kembali.

“Tiga tahun yang lalu pernah buka tapi bubar. Terus setelah sekian lama, sekarang sudah sekitar lima bulan, buka angkringan kembali. Bertemu kawan-kawan, hingga akhirnya angkringan bisa dihidupkan kembali,” tutur pria berambut gondrong ini kepada KIM Juragan.

Ia memilih konsep angkringan karena hobi kuliner dan sekalian buat tongkrongan bagi pencinta kuliner.  Selain itu ia terinspirasi saat masih usia belasan, dan hobi jalan-jalan ke luar kota. Ke Semarang, ke Yogjakarta, dan lain-lain. Dari pengalaman di jalan, ia menjadikan ide usahanya.

Dengan menjadi pengusaha di usia yang muda, ia bersyukur dapat membuka lapangan pekerjaan. Karyawannya berjumlah enam orang. Empat orang khusus menjaga stand, dan dua orang khusus untuk di rumah.

Ketika ditanya menu apa saja yang ada di angkringan, dengan senang hati pemuda ini menyebutkan satu persatu menu yang tersedia.

“Sate udang, sate usus, sate hati, tahu bacem, tempe bacem, tempe goreng, ayam goreng kecap, nasi kucing, nasi bakar, dan beberapa jenis minuman. Paling mahal 15 ribu, paling murah 1000. Untuk minuman  paling mahal 10 ribu,” terangnya.

“Menu yang paling banyak diorder adalah nasi bakar, dan nasi kucing,” ucapnya.

Konsumennya tak hanya dari kalangan anak muda, tapi juga dari kalangan usia tua, yang pernah jalan-jalan jauh dan pernah merasakan masakan khas Jogja, serta anak-anak muda di sini yang pernah merasakan kuliah di luar kota. Selain itu memang yang hobi makan.

Untuk menarik hati konsumen, ia menggunakan brand yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat.

“Promosinya tidak terlalu sulit mbak, karena usaha ini sudah dirintis sejak lama. Selain itu dukungan dari kawan-kawan dengan membantu mempromosikan, serta lokasi yang strategis. Rencananya dalam waktu dekat akan membuka cabang di wilayah Kedamin,” ungkapnya.

“Kedepannya akan ada menu tambahan, namun saat ini masih rahasia,” katanya sambil tersenyum.

Selama berwirausaha tentu saja ada hambatan-hambatannya.

“ Seperti hujan, orang pada malas keluar. Penerangan juga masih kurang, kemudian tempat yang enak buat nongkrong,” kata pemuda yang akrab dipanggil Hendro.

Mengikuti perkembangan teknologi, ia bekerja sama dengan aplikasi ojek online, “Caraka Food”.

Pesan-pesannya untuk generasi muda adalah temui bakat, kembangkan, dan jangan malu-malu.

“Rajin, serta harus semangat dalam menjalaninya, jangan gengsi, dan harus pede,” pungkasnya. (Ria).