Purik Masih Diteliti Litbangkes Kemenkes RI

Legalitas produk daun kratom atau purik masih belum jelas di Indonesia. Hal ini masih terus ditunggu masyarakat petani kratom.

Salah satu penghasil komoditi kratom terbesar di Indonesia adalah Kalimantan Barat, dimana produsen utamanya dari Kabupaten Kapuas Hulu.

Sebab itu, kabupaten ujung timur Kalimantan Barat ini sering kali dikunjungi pejabat kementerian yang wewenangnya bersentuhan dengan komoditi kratom. Terkahir, utusan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang mendatangi Bumi Uncak Kapuas. Mereka datang untuk mengkaji berbagai aspek, utamanya adalah uji klinis.

Kabid Layakan Kesehatan pada Dinas Kesehatan Kapuas Hulu, M Nasarudin, mengatakan bahwa untuk uji klinis tersebut Kemenkes RI mengutus Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes). Litbangkes melakukan kajian sosial serta sampeling produk kratom. “Mereka berkunung ke Kalis dan kecamatan Pesisir Kapuas, mengambil sempel dan mendengar masukan warga,” ujarnya, Selasa (8/10).

Dari input informasi yang disampaikan warga, kratom banyak manfaat klinisnya. Hal ini didapat dari warga yang mengkonsumsinya secara langsung. “Jadi banyak masukan positif tentang kratom yang didapat Litbangkes kemaren,” paparnya.

Nasarudin mengatakan, selain mendengar masukan warga, Litbangkes juga mengambil sampel beberapa produk olahan purik. “Sampel diambil untuk uji klinis, baik itu daun, remahan dan bubuk,” tegasnya.

Hasil uji klinis Litbangkes, kata Nasharudin, merupakan salah satu faktor untuk aturan Pemerintah tentang kratom. Uji klinis tersebut dinyatakan Litbangkes perlu waktu empat sampai lima tahun. “Dari uji klinis itu baru selanjutnya untuk jadi salah satu rujukan legal tidaknya kratom,” papar Nasarudin. (yohanes)