Suasana Idul Adha 1440 H di Masjid Nurul Iman Putussibau


By. KIM Juragan.

Pada hari minggu (11/8) di saat umat muslim di seluruh Indonesia melaksanakan sholat Idul Adha, di belahan bumi yang lain di mekah, saudara kita sedang melaksanakan ibadah haji pada hari ini (11/8), di madinah untuk melaksanakan salah satu rukun haji, yaitu melontar jumrah. Berkenaan dengan sholat Idul Adha, dan penyembelihan hewan qurban, bisa dikait di dalam surah Al-Kautsar Ayat 1-3.

“Sesungguhnya Muhammad, kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.”

Dalam surah Al Kautsar ini mengandung pesan inti, agar kita mengelola nikmat Allah yang tak terhitung jumlahnya. Baik itu nikmat lahir maupun batin. Terutama nikmat iman, Islam, dan kesehatan. 

Ketika mampu mengelola nikmat iman ini dengan baik. Maka, itulah yang disebut dengan syukur. Berkenaan dengan syukur ini bisa diterjemahkan dengan teori pantulan bola. Makin keras kita memantulkan bola ke bawah, maka makin tinggi pula bola melambung ke atas. Begitupula dengan bersyukur. Makin banyak kita bersyukur kepada Allah SWT maka makin banyak tercurahkan nikmat-nikmat Allah yang lain.

Di dalam Al Quran Allah menjanjikan apabila kamu bersyukur, kata Allah, maka akan aku tambah nikmat yang lain. 

Kalau kita cermati perayaan Idul Adha, secara mendalam. Maka kita akan menyebutkan lima pelajaran pertama penting dari moment tersebut.

Pertama adalah pelaksanaan ibadah haji. Ibadah haji merupakan rukun islam kelima. hukumnya wajib bagi yang mampu. Dan ibadah haji ini merupakan sebuah Panggilan Allah kepada seluruh umat islam di muka bumi. 

Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya Ibrahim, mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai setiap unta yang kurus, serta mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.

Ibnu Abbas menyatakan bahwa ketika nabi Ibrahim telah selesai membangun Kakbah, lalu Allah SWT berfirman, “wahai Ibrahim serulah manusia, panggilah manusia untuk melaksanakan ibadah haji.”

Lalu nabi Ibrahim sempat malu, apakah panggilannya, apakah seruannya akan didengar? Lalu ia berkata, wahai Allah apakah panggilanku, apakah seruanku akan sampai. Dan didengarkan oleh manusia?

Lalu Allah berfirman, wahai Ibrahim, seru saja panggil saja dan aku Allah yang akan menyampaikannya. Lalu nabi Ibrahim berseru, wahai manusia laksanakanlah ibadah haji Allah ini, niscaya Allah akan menganugerahkan surga dan menghapus siksa siksa darimu.

Lalu orang disekitar itu pada waktu itu mendengar dan menyambut dengan ucapan talbiyah Labbaika allahumma labbaik, Laa syariika laka labbaik. Innalhamda wan-ni’mata laka wal mulk, laa syariikalak.

Panggilan Allah ini secara terbukti, khususnya Indonesia, jalur jamaah haji Kapuas Hulu, ketika mereka mendaftar di Kementerian Agama RI mendaftar pada hari ini, maka mereka akan berangkat pada tahun 2038, artinya mereka harus menunggu selama 19 tahun. Inilah bukti otentik panggilan Allah SWT. untuk melaksanakan ibadah haji.

Hikmah dari prosesi Ibadah haji mengajar kepada umat Islam untuk bersatu. Kita lihat jamaah haji berdatangan dari segala penjuru, bercorak suku, berlainan bangsa, beragam warna kulit serta bahasa, tetapi ketika mereka berada di baitullah untuk melaksanakan tawaf, maka terlihat diibaratkan seperti satu tumpuk bergerak dalam satu nada dan irama, serta mengumandangkan satu kalimat yaitu mengumandangkan kalimat2 membesarkan dan mengesakan Allah SWT.

Pelajaran kedua dari pelaksanaan Idul Adha adalah pelajaran penyembelihan hewan qurban. Qurban artinya pendekatan. Artinya kita mendekatkan diri kepada rahmat, ridha serta ampunan Allah.

Ketika kita berkorban dengan mengorbankan sebagian harta kita, untuk membeli hewan kurban. Baik itu unta, sapi, domba, kambing, kemudian kita sembelih dan dagingnya kita berikan kepada saudara kita yang memerlukan. Maka ini berarti kita telah menjadi orang yang dermawan, mempunyai satu kepekaan yang amat tinggi.

Dan kita harus yakin bahwa suatu waktu pengorbanan yang berupa membeli dan menyembelih hewan kurban ini, dan kita harus yakin pengorbanan kita akan diganti dengan pertolongan Allah dalam bentuk lain.

Di samping kita akan mendapat predikat Khairiul ummah, yaitu ummah terbaik, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.  Di samping itu juga, akan mengundang pertolongan Allah SWT. Sebagaimana diriwayatkan HR Bukhari Muslim. “Sesungguhnya Allah akan tetap menolong hamba-Nya selama saudaranya menolong hambanya yang lain.”

Qurban sebagai bentuk rasa syukur serta wujud ketaatan kita kepada Allah SWT. Marilah berusaha untuk berkurban sebagai bentuk kepedulian, teruslah membangun kebersamaan. Agar terwujud keharmonisan. Janganlah berhenti di tengah jalan sebelum sampai tujuan. (Ria)

Khutbah Idul Adha ini disampaikan oleh ustadz Zainudin, S.Ag.S.Pdi. yang ditulis kembali oleh Jurnalisme Warga Nurhijria Maharani.