Proses Pengasapan Ikan Secara Tradisional Di Belibis Panjang SUHAID

Laporan KIM Entugan Hulu
A.Hartawansyah Praniansyah

Informasi Suhaid. Dalam Proses pengolahan ikan ada beberapa cara yang bisa kita gunakan. Salah satunya adalah dengan cara pengasapan. Pengasapan merupakan salah satu cara memasak, memberi aroma, atau proses pengawetan makanan, terutama daging, ikan. Dari dulu sampai saat ini didaerah danau di Kecamatan Suhaid makanan diasapi dengan panas dan asap yang dihasilkan dari pembakaran kayu, dan tidak diletakkan dekat dengan api agar tidak terpanggang atau terbakar.

Mengolah ikan segar menjadi ikan asap sangatlah mudah, dengan bahan baku utama yaitu ikan yang memang mudah didapat oleh nelayan pada saat ini karena musim kemarau. Sedangkan untuk membakar hanya dibutuhkan arang, atau potongan kayu. Sedangkan untuk tungku pembakarannya biasanya menggunakan drum bekas atau perapian yang disebut Parak yang juga tidak terlalu sulit didapatkan, mengingat perkampungan nelayan yang masih menggunakan cara tradisional dalam pengasapan.

Dengan metode yang sangat sederhana ini, nelayan di Kecamatan Suhaid ini terbiasa bekerja dari waktu ke waktu memanfaatkan hasil sungai dengan harapan bisa menjadikan ikan bernilai ekonomis yang lebih tinggi meskipun dengan ruang kerja sederhana.

Menurut Didi Mashuri selaku nelayan di Kecamatan Suhaid, tepatnya di Belibis Panjang, bahwa sehari bisa menghasilkan minimal 6 kg ikan asapan.

“Sehari minimal 6 kg hasil pengasapan, apalagi musim kemarau ini ikan cukup banyak meskipun tidak sebanyak kemarau tahun lalu,”ungkapnya (11/8/2019).

Ikan asapan ini biasanya diambil oleh pengepul untuk selanjutnya dipasarkan di pasar-pasar tradisional di seputaran kota Kecamatan Suhaid bahkan sampai ke Pontinak. Ikan asapan ini bisa bertahan sampai dengan 30 hari tergantung cara menyimpannya sebelum diolah kembali menjadi masakan.