Dua Ons Herbal Kratom Bisa 200 Hingga 400 USD

Komoditi kratom asal Kapuas Hulu dan beberapa wilayah di Kalimantan Barat telah menyentuh pasar Internasional. Produk bubuk kratom sangat digemari konsumen herbal di beberapa negara, seperti Canada, Amerika dan beberapa negara lain. Dominannya konsumen herbal produk kratom asal Kalimantan Barat adalah warga Amerika Serikat.

Perwakilan lembaga penggiat kratom SUNDA SHELF, Tom Chapman menuturkan kratom bukan hanya memberi manfaat kesehatan bagi penikmat herbal tetapi juga mengangkat ekonomi di masyarakat dikawasan konservasi. “Saya tertarik dengan keratom ini, selain dari sisi manfaat kesehatan ada pula sisi kemanusiaan yang terangkat,” ujarnya.

Tom menuturkan, ada peluang besar bagi ekonomi masyarakat Indonesia, khususnya di Kapuas Hulu dan Kalimantan Barat. Sebab harga kratom dipasaran Amerika, sangat tinggi dibandingkan harga pembelian dipetani kratom Indonesia.

“Di Amerika kratom ini satu ons dan dua ons saja untuk jadi teh herbal harganya 200-400 USD. Tapi disini hanya 1 hingga 3 USD saja ambil dari petani, dapatnya per kilogram lagi. Sebab itu produksi dan pengiriman ini perlu diatur secara baik agar pendapatan kedepan bisa lebih mensejahterakan masyarakat di sini,” ujarnya.

Tom menjelaskan bahwa kenaikan harga produk kerap terjadi di vendor yang ingin mengambil untung besar. Bahkan ada isu yang diciptakan untuk menjatuhkan harga di tingkat petani namun menaikan harga di tingkat vendor. Ini yang perlu ditangkal bersama, agar masyarkat mendapat harga yang baik produk harus bermutu dan langsung dari petaninya. “Sebab itu konsumen herbal Amerika saat ini tidak lagi mengambil ke vendor di Amerika, mereka lebih suka mengambil langsung ke petani kratom yang pola dokumentasi dan produksi yang baik. Ini juga peluang ecomers bagi masyarakat Indonesia,” ujarnya.

Terkait dengan kisruh kratom terkait dengan obat terlarang di Indonesia, Tom, enggan berkomentar banyak. Namun, ia menegaskan bahwa dirinya memiliki seorang anak yang juga Senator di Amerika, pernah berhasil memperjuangkan legalitas untuk obat-obat keras yang memang dibutuhkan masyarakat luas. Bahkan ada pula seorang doktor yang telah meneliti kratom selama 20 tahun, hasil kajian tersebut mungkin dapat disampaikan kepada pihak terkait. “Kami tidak tahu apa yang terjadi di Indonesia dan Amerika tentang kratom ini secara pasti, tetapi masyarakat disini juga butuh dukungan aturan dari pemerintah untuk pengiriman kratom kedepannya,” tuntas Tom. (yohanes)